Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 November 2011

HADIAH NATAL TERINDAH


Di Jerman tinggal seorang tukang arloji. Namanya Herman Josep. Dia tinggal di sebuah kamar yang sempit. Di kamar itu hanya ada sebuah bangku kerja, sebuah lemari tempat kayu dan perkakas kerjanya, sebuah rak untuk tempat piring dan gelas serta tempat tidur lipat di bawah bangku kerjanya. Selain puluhan arloji yang sudah dibuatnya tidak ada barang berharga lain di kamarnya.

Di jendela kaca kamar itu. Herman menaruh sebuah jam dinding paling bagus untuk menarik perhatian orang-orang yang lewat. Herman adalah seorang tukang arloji yang miskin. Pakaiannya
compang-camping. Tetapi dia baik hati. Anak-anak di sekitar rumah menyukainya. Kalau permainan mereka rusak, Herman biasa diminta memperbaiki.

Herman tak pernah minta satu sen pun untuk itu. "Belilah makanan yang enak atau tabunglah uang itu untuk hari Natal." Ini jawaban yang Herman selalu berikan.

Sejak dulu penduduk kota itu biasa membawa hadiah Natal ke kathedral dan meletakkannya di kaki patung Maria yang sedang memangku bayi Yesus. Setiap orang menabung supaya bisa memberi hadiah yang paling indah pada Yesus.
Orang-orang bilang, kalau Yesus suka hadiah yang diberikan kepada-Nya, Ia akan mengulurkan tangan-Nya dari pelukan Maria untuk menerima bingkisan itu Tentu saja ini legenda. Belum pernah terjadi bayi Yesus dalam pelukan Maria mengulurkan tangan menerima bingkisan Natal untuk-Nya.

Meskipun begitu penduduk kota itu selalu berusaha membawa bingkisan yang paling indah. Para penulis puisi membuat syair-syair yang aduhai.

Anak-anak juga tidak ketinggalan. Setiap orang berlomba memberikan yang terbaik pada Yesus di Hari Natal.

Siapa tahu, kata mereka, Yesus mengulurkan tangan menerima pemberian itu. Orang-orang yang tidak punya bingkisan, pergi ke Gereja untuk berbakti pada malam Natal sekaligus menilai bingkisan mana yang terindah.

Herman, tukang arloji, adalah salah seorang yang hanya pergi untuk berbakti dan menonton. Pernah ada seorang teman mencegah Herman dan bertanya: "Kau tidak tahu malu. Tiap tahun kau tak pernah membawa bingkisan Natal buat Yesus?"

Pernah satu kali panitia Natal bertanya: "Herman! Mana bingkisan Natal darimu? Orang-orang yang lebih miskin dari kau saja selalu bawa."

Herman menjawab: "Tunggulah, satu ketika saya akan bawa bingkisan." Tapi sedihnya, tukang arloji ini tak pernah punya apa-apa untuk Yesus. Arloji yang dibuatnya dijual dengan harga murah. Kada
ng-kadang ia memberikan gratis pada orang yang benar-benar perlu.

Tetapi dia punya ide. Tiap hari ia bekerja untuk bingkisan natal itu. Tidak satu orangpun yang tahu ide itu kecuali Trude, anak perempuan tetangganya. Trude berumur 7 tahun waktu ia tahu ide Herman. Tetapi setelah Trude berumur 31 tahun bingkisan itu belum selesai.

Herman membuat sebuah jam dinding. Mungkin yang paling indah dan belum pernah ada. S
etiap bagian dikerjakan dengan hati-hati dan penuh kasih. Bingkainya, jarum-jarumnya, beratnya, dan yang lainnya diukir dengan teliti. Sudah 24 tahun Herman merangkai jam dinding itu.

Masuk tahun ke-25 Herman hampir selesai. Tapi dia juga masih terus membantu memperbaiki mainan anak-anak. Perhatiannya pada hadiah Natal itu membuat dia tidak punya cukup waktu untuk buat a
rloji dan menjualnya.

Kadang Herman tidur dengan perut kosong. Ia makin tambah kurus tetapi jam dindingnya makin tambah cantik.

Di jam dinding itu ada kandang, Maria sedang berlutut di samping palungan yang di dalamnya terbaring bayi Yesus. Di sekeliling palungan itu ada Yusuf serta tiga orang Majus, gembala-gembala dan dua orang malaikat.


Kalau jam dinding itu berdering, orang-orang tadi berlutut di depan palungan Yesus dan terdengar lagu "Gloria in Excelsis Deo".

"Lihat ini!" kata Herman pada Trude. "Ini berarti bahwa kita harus menyembah Kristus bukan hanya pad
a hari Minggu atau hari raya tetapi pada setiap hari dan setiap jam. Yesus menunggu bingkisan kita setiap detik." Jam dinding itu sudah selesai. Herman puas.

Ia menaruh benda itu di jendela kaca kamarnya supaya bisa dilihat orang. Orang-orang yang lewat berdiri berjam-jam mengagumi benda itu. Mereka sudah menduga bahwa ini pasti bingkisan Natal dari Herman.

Hari Natal sudah tiba. Pagi itu Herman membersihkan rumahnya. Ia mengambil pakaiannya yang paling bagus. Sambil bekerja ia melihat jam dinding itu. Ia takut jangan-jangan ada kerusakan. Dia senang sekali sehingga ia memberikan uang yang dia miliki kepada pengemis-pengemis yang lewat di rumahnya.

Tiba-tiba ia ingat, sejak pagi dia belum sarapan. Ia segera ke pasar untuk membeli sepotong roti dengan uang terakhir yang ada padanya. Di lemarinya ada sebuah apel. Ia mau makan roti dengan apel
itu. Waktu dia buka pintu, Trude masuk sambil menangis. "Ada apa?" tanya Herman.

"Suami saya mengalami kecelakaan. Sekarang dia di RS. Uang yang kami tabung untuk beli pohon Natal dan kue harus saya pakai untuk bayar dokter. Anak-anak sudah menunggu hadiah Natal. Apa lagi yang harus saya berikan untuk mereka?"

Herman tersenyum. "Tenanglah Trude. Semua akan beres. Saya akan jual arloji saya yang masih sisa. Kita akan punya cukup uang untuk beli mainan anak-anak. Pulanglah."Herman mengambil jas dinginnya lalu pergi ke pasar dengan satu jam tangan yang unik.

Ia tawarkan jam itu di toko arloji. Tapi mereka tidak berminat. Ia pergi ke kantor gadai tapi pegawai-pega
wai bilang arloji itu kuno. Akhirnya ia pergi ke rumah walikota. "Tuan, saya butuh uang untuk membeli mainan bagi beberapa anak. Tolong beli arloji ini?"

Pak Walikota tertawa. "Saya mau beli arloji tetapi bukan yang ini. Saya mau jam dinding yang ada di jendela kaca rumahmu. Berapapun harganya saya siap." "Tidak mungkin tuan. Benda itu tidak saya jual.""Apa? Bagi saya semua mungkin.

Pergilah sekarang. Satu jam lagi saya akan kirim polisi untuk ambil jam dinding itu dan kau dapat 1.000 dollar."

Herman pergi sambil geleng-geleng kepala. "Tidak mungkin! Saya mau jual semua yang saya punya.
Tapi jam dinding itu tidak. Itu untuk Yesus." Waktu ia tiba dekat rumah, Trude dan anak-anaknya sudah menunggu. Mereka sedang menyanyi. Merdu sekali.

Baru saja Herman masuk, beberapa orang polisi sudah berdiri di depan. Mereka berteriak agar pintu dibuka.

Jam dinding itu mereka ambil dan uang 1.000 dolar diberikan pada Herman. Tetapi Herman tidak menerima uang itu. "Barang itu tidak saya jual. Ambillah uang itu," teriak Herman sedih. Orang-orang itu pergi membawa jam dinding serta uang tadi.

Pada waktu itu lonceng gereja berbunyi. Jalan menuju kathedral penuh manusia. Tiap orang membawa bingkisan di tangan. "Kali ini saya pergi dengan tangan kosong lagi", kata Herman sedih. "Say
a akan buat lagi satu yang lebih cantik."

Herman bangkit untuk pergi ke gereja. Saat itu ia melihat apel di dalam lemari. Ia tersenyum dan meraih apel itu. "Inilah satu-satunya yang saya punya,
makanan saya pada hari natal. Saya akan berikan ini pada Yesus. Itu lebih baik dari pada pergi dengan tangan kosong."

Katedral penuh. Suasana bukan main semarak. Ratusan lilin menyala dan bau kemenyan terasa di mana-mana. Altar tempat patung Maria memangku
bayi Yesus penuh dengan bingkisan. Semuanya indah dan mahal.

Di situ juga ada jam dinding buatan tukang arloji itu. Rupanya Pak Walikota mempersembahkan benda itu pada Yesus.

Herman masuk. Ia melangkah dengan kaki berat menuju altar dengan memegang apel. Semua mata tertuju padanya. Ia mendengar mereka mengejek, makin jelas. "Cih! Dia memang benar-benar pelit. Jam dindingnya yang indah dia jual. Lihatlah apa yang dia bawa memalukan!".

"Cih! Dia memang benar-benar pelit. Jam dindingnya yang indah dia jual. Lihatlah apa yang dia bawa. Memalukan!" Hati Herman sedih, tetapi ia terus maju. Kepalanya tertunduk. Ia tidak berani mem
andang orang sekeliling. Matanya ditutup. Tangan yang kiri diulurkan ke depan untuk membuka jalan.

Jarak altar masih jauh. Herman tahu bahwa ia harus naik anak tangga untuk sampai ke altar. Sekarang kakinya menyentuh anak tangga pertama. Herman berhenti sebentar. Ia tidak punya tenaga lagi. Sejak pagi dia belum makan apa-apa. Ada tujuh anak tangga. "Dapakah saya sampai ke altar itu?"

Herman mulai menghitung. Satu! Dua! Tiga! Empat! lalu ia terantuk dan hampir terguling ke bawah. Serentak semua orang berkata: "Memalukan!" Setelah mengumpulkan sisa tenaga Herman bergerak lagi. Tangga kelima. Kedengaran suara mengejek: "Huuuu...!" Herman naik setapak lagi. Tangga keenam.

Omelan dan ejekan orang-orang berhenti. Sebagai gantinya terdengar seruan keheranan semua orang yang ha
dir. "Mujizat! Sebuah mujizat!!!"

Hadirin seluruhnya turun dari kursi dan berlutut. Imam merapatkan tangannya dan mengucapkan doa. Herman, tukang arloji yang miskin ini menaiki anak tangga yang terakhir.


Ia mengangkat wajahnya. Dengan heran ia melihat patung bayi Yesus yang ada di pangkuan Maria sedang mengulurkan tangan untuk menerima bingkisan Natal darinya. Air mata menetes dari mata tukang arloji itu. Inilah hari Natal yang paling indah dalam hidupnya.

Yesus mau mengenal anda secara pribadi
 
 
sumber: http://nelsonsamosir.blogspot.com/2007/02/hadiah-natal-terindah.html
Baca Selengkapnya.. "HADIAH NATAL TERINDAH"

Beratnya Beban Seorang Istri

Seorang suami yang capek dan letih karena harus pergi kerja tiap hari sedangkan istrinya menghabiskan waktu di rumah, kemudian dia berdoa “Ya Tuhan, aku pergi kerja tiap hari 8 jam sedangkan istriku hanya tinggal di rumah, aku pengen dia tau betapa capeknya diriku kerja. untuk itu ijinkan kami bertukar badan sehari saja, Amin”, rupanya Tuhan mengabulkan doanya.

Keesokan paginya dia bangun sebagai wanita. Dia memasak buat sarapan, membangunkan anak-anaknya, memandikan, menyuapinnya dan menyiapkan bekal makan siang mereka, mengantarnya ke sekolah. balik ke rumah ngambil baju-baju kotor untuk dilaundry, mampir ke bank untuk deposit, pergi ke supermarket buat belanja, pulang menurunkan barang belanjaan, bayar tagihan-tagihan, mandiin binatang kesayangannya, tak terasa udah jam 1 sore. Buru-buru beresin tempat tidur, vakum lanta i, ngepel dapur. udah waktunya jemput anak-anak pulang sekolah, kemudian nyiapin makanan kecil, susu buat anak-anak, beresin pr-pr mereka, setrika sambil nonton tv.

Jam 4:30 sore mulai masak buat makan malem, kemudian beresin piring-piring setelah makan malem, beresin dapur, mandiin anak-anak sampai meninabobokan mereka pada jam 9:00 malem. capeknya udah gak ketulungan, tapi nggak berhenti sampai di situ, masih harus melayani suaminya make love tanpa bisa menolak.

Keesokan paginya dia terbangun oleh bunyi weker, kemudian berdoa lagi” Ya Tuhan, aku gak tau apa yang ada dalam pikiranku, aku terlalu iri pada istriku yang tinggal di rumah sepanjang hari. Tolong ijinkan kami bertukar badan lagi”.

Doanyapun mendapat jawaban :

“Rupanya kamu telah mendapatkan satu pelajaran, Aku akan senang untuk menukar badan kalian seperti sedia kala”. “cuma kamu harus tunggu sampai 9 bulan, karena semalem kamu telah hamil”.
Baca Selengkapnya.. "Beratnya Beban Seorang Istri"

Value your time!

Jack baru saja mendapatkan pelajaran berharga.
Ia membuka sebuah kotak keemasan dan ia mendapati di dalamnya sesuatu yang sangat berharga juga secarik kertas yang sangat berkesan.
Waktu kecil ia tinggal bersama ibunya di sebuah kota kecil. Ia bertetangga dengan seorang duda yang istrinya sudah meninggal. Duda itu tidak mempunyai anak dan hanya tinggal sendiri. Pria malang itu melihat Jack bertumbuh dari seorang anak-anak, sampai kencan pertamanya, lulus dari kuliah, bekerja dan menikah. Jack adalah seorang pekerja keras yang gila kerja.
Ia bahkan tidak ada waktu untuk putrinya dan istrinya. Setelah ia menikah, ia dan keluarganya tidak lagi tinggal di sebelah rumah pria tua itu. Mereka pindah.
Suatu hari Jack mendapat telepon dari ibunya, “Ingat Pak Belser? Ia meninggal dunia hari Selasa lalu. Pemakamannya hari Kamis pagi.”
Kenangan masa kecilnya berseliweran dalam dirinya.
Ia mengenang kembali masa-masa kecilnya dengan Pak Belser.
“Halo?” suara ibunya membangunkannya.
“Iya bu, aku akan ke sana hari Rabu,” kata Jack
“tapi kupikir Pak Belser sudah lupa tentang diriku.”
“Oh tidak, Jack,” kata ibunya, “Pak Belser selalu ingat padamu.
Ia ingat akan hari-hari di mana kamu main-main di balik pagar rumahnya dan hari ketika kamu duduk di pangkuannya ketika istrinya meninggal.”
“Beliau orang pertama yang mengajariku ilmu pertukangan. Tanpa beliau, aku tidak akan mungkin terjun ke usaha ini.” kata Jack.
Sesibuk-sibuknya Jack, ia kemudian mengatur ulang jadwalnya di hari Rabu dan Kamis. Ia menghargai Pak Belser seperti ayahnya sendiri dan ia sangat ingin ada di sana ketika pemakamannya.
Hari Rabu malam ia tiba di kampung halamannya. Ia dan ibunya kemudian berjalan ke rumah Pak Belser untuk terakhir kalinya. Di beranda, ia mengintip ke dalam rumah Pak Belser.
Terbesit banyak kenangan tentang masa kecilnya. Sofa yang sering ia duduk, meja makan di mana ia pernah memecahkan piring, telepon di sudut ruangan dan hey…
Jack terdiam sejenak.
“Kotak emas di ujung meja itu hilang!” seru Jack.
Ibunya bingung. Segera Jack menjelaskan tentang kotak emas di ujung meja itu. Ukurannya tak lebih dari satu jengkal orang dewasa dan bercat emas di luarnya. “Pak Belser selalu mengatakan itu miliknya paling berharga dan akan diberikan kepada seseorang yang layak menerimanya. Tapi setiap kali aku menanyakan isinya, ia selalu menjawab ‘Pokoknya berharga deh’.”
Dan sekarang kotak emas itu sudah tidak ada lagi. Dugaan Jack, mungkin diambil oleh seorang keluarga jauhnya.
Dua minggu kemudian setelah pemakaman, seorang kurir mengantarkan sebuah paket untuk Jack. Nama Jack tertulis di atas paket itu dengan tulisan yang sangat sulit dibaca. Jack membuka paket itu… Di dalamnya ada sebuah kotak emas (persis seperti kotak emas Pak Belser yang hilang itu) dan sepucuk surat .
Jack membaca surat itu,
“Setelah kepergianku, tolong sampaikan kotak ini kepada Jack Bennet. Ini adalah harta paling berharga yang kumiliki.” Sebuah kunci ada dalam amplop itu, kunci untuk membuka kotak itu. Hatinya bergetar, tanpa sadar ia menangis terharu, Jack perlahan membuka kotak itu. Di dalamnya dia menemukan sebuah jam saku yang indah yang terbuat dari emas. Dengan perlahan Jack membuka jam itu.
Di dalamnya terukir kata-kata yang tak pernah ia lupakan seumur hidupnya,
“Terima kasih, Jack, untuk waktumu. Ini saya berikan jam untukmu, sesuatu yang paling berharga bagiku. Harold Belser.”
“Yang ia hargai dariku adalah… waktuku.” serunya perlahan.
Ia menggenggam jam itu beberapa saat. Kemudian ia menelepon sekertarisnya dan membatalkan semua janjinya untuk dua hari ke depan. “Mengapa?” tanya Janet, sekertarisnya.
“Aku ingin menghabiskan waktu untuk keluargaku,” kata Jack, “dan Janet, terima kasih untuk waktumu.”
Sobat, di dunia ini ada dua hal yang tidak bisa ditarik kembali: itu adalah perkataan dan waktu. Waktu yang sudah lewat tidak akan bisa dikembalikan lagi. Waktu tidak bisa dipaksa mundur, tidak bisa diperlambat dan juga tidak bisa dipercepat. Waktu akan terus bergerak maju dengan kecepatan konstan.
Kita tidak akan bisa kembali ke masa kanak-kanak.
Kita tidak bisa mengulang satu peristiwa yang sama di waktu itu.
Sudahkah Anda memberi waktu pada diri Anda dan sesama Anda ?
Sudahkah orang lain menghargai waktu yang telah Anda korbankan kepada mereka ?
Baca Selengkapnya.. "Value your time!"

Izinkan Orang Lain Untuk Mengasihi Anda

“Mama!!! Ini kenapa ayamnya kecil-kecil??? Nasinya banyak begini, ayamnya kecil begini, makanan macam apa ini???” teriak Andi dari ruang makan.
Sang ibu keluar dari dapur, membawa semangkuk besar sayur hijau dan sepiring tahu-tempe. “Ini ada sayur ijo dan tahu-tempe juga yang bisa kamu makan…”
“Sayur begitu mana bisa dimakan. Ngelihatnya saja sudah bikin ga nafsu makan…” kata Andi.
“Ya, adanya hanya ini… Kamu mau makan ngga?” sang ibu mulai kesal melihat Andi bersungut-sungut.
“Apa? ‘Mau makan ngga?’ Jadi gini mama memperlakukan anak mama sendiri…” Andi berdiri dari kursinya.
“Kamu sekarang makin berani ya sama mama???” sang ibu semakin kesal.
“Mama benar-benar membuat Andi ga nafsu makan lagi. Memang dari dulu mama selalu pilih kasih, lebih sayang dengan Budi. Mentang-mentang aku lebih tua, mama ga sayang aku, aku cuma dibentak-bentak. Cuma dede yang mama sayang!” Andi langsung meninggalkan meja makan, masuk ke kamarnya dan membanting pintu kamarnya keras-keras.

Sang ibu sungguh kaget melihat putra sulungnya. Perasaannya bercampur aduk, antara marah, kecewa, dan sedih. Tangannya gemetar. Hampir saja mangkuk yang sedang dipegangnya terjatuh.
“Mama, aku pulang…” terdengar suara dari pintu depan.
“Budi…” sang ibu melihat putra bungsunya menghampirinya dari jauh dengan muka berseri-seri.
“Ayo makan, Budi. Kamu belum makan kan?” tanya sang ibu.
“Wah… Mama masak lagi hari ini? Mama tau aja Budi belum makan. Makasih banget ya ma, pasti mama capek banget masak ini semua. Mestinya mama tunggu Budi pulang kan bisa Budi bantuin…”
“Tidak, Budi. Mama senang kok memasak buat kamu. Ayo makan…”
“Wah, ada ayam, sayur, tahu, tempe… Sudah empat sehat nih ma… :) Mama juga pasti belum makan, ayo kita makan bareng. Sini aku ambilin nasi buat mama.”
“Ayamnya agak kecil gapapa ya, Budi…?”
“Wah, bisa makan ayam saja aku sudah bersyukur ma. Tadi Budi baru saja ketemu satu pengemis di depan rumah. Dia malah ga bisa jalan dan tiga hari ini belum makan ma. Makanya aku kasihan dan aku kasih uang jajanku tadi ke dia.”
“Oh, bapak-bapak yang di depan rumah itu? Dia itu penipu, Budi…”
“Hah? Maksud mama?”
“Ya dia tuh sebenarnya orang sehat yang disuruh mengemis sama orang, jadi dia pura-pura ga bisa jalan dan kelaparan supaya banyak orang yang kasihan.”
“Oh, jadi dia bisa jalan ya ma? Saya berdoa pada Tuhan agar dia bisa sembuh, ga nyangka ternyata doa saya dijawab secepat ini. Kasihan juga ya dia ma, disuruh-suruh mengemis sama orang.”
Sang ibu hanya bisa tersenyum, “Kadang-kadang kamu tuh terlalu baik, Budi…”
“Hehe, Tuhan sudah baik banget sama saya, ma… Saya bisa sekolah, bisa punya rumah, bisa makan tiap hari, dan yang terutama, punya mama yang selalu ada buat saya. Kebaikan saya masih kalah jauuuuuh ma dari kebaikan Tuhan.” Budi menjawab dengan tersenyum lebar.
Sang ibu begitu terharu, tidak dapat berkata apa-apa.
“Ngomong-ngomong, ko Andi sudah makan ma?”
Sang ibu menggelengkan kepalanya.
“Kalau gitu saya panggil dia dulu ya ma, biar kita bisa makan sama-sama… :) ” kata Budi, dan dengan langkah yang riang dia pergi menghampiri kamar kakaknya.

Pertanyaan Untuk Anda

Saya punya beberapa pertanyaan untuk Anda.
Seandainya saat ini saya berikan Anda sejumlah uang yang harus Anda berikan kepada seseorang antara Andi atau Budi, kepada siapakah uang itu akan Anda berikan?
Seandainya saat ini Anda harus menemani seorang dari kedua anak tersebut berjalan-jalan, siapakah yang akan Anda pilih untuk berjalan-jalan bersama Anda? Andi atau Budi?
Seandainya saat ini Anda akan memeluk seseorang. Siapakah yang akan Anda peluk? Andi atau Budi?
Seandainya saat ini Anda sedang mencari seorang sahabat. Siapakah yang akan Anda jadikan sahabat? Andi atau Budi?
Kalau Anda sama seperti saya, Anda akan menjawab Budi untuk keempat pertanyaan di atas. Lalu, apakah itu berarti Anda pilih kasih dengan Budi? Atau Budi yang mengizinkan Anda untuk mengasihinya?

Rasa Syukur Mengubahkan Hidup

Cerita di atas memang hanyalah sebuah cerita karangan saya. Tetapi ada makna yang dalam yang ingin saya bagikan melalui cerita tersebut.
Kalau Anda perhatikan, Andi dan Budi mendapatkan hal yang sama. Mereka sama-sama mendapatkan ayam, sayur, tahu, dan tempe untuk makan siang mereka. Namun mengapa respon mereka berbeda?
Inilah jawabannya. Budi menghargai hal-hal yang sederhana, sementara Andi hanya menghargai hal-hal yang spektakuler.
Budi menghargai hal-hal yang sederhana karena dia percaya bahwa semua hal yang dia dapatkan dalam hidup ini adalah anugerah Tuhan. Anugerah adalah sesuatu yang diberikan kepada mereka yang tidak layak mendapatkannya. Budi menyadari setiap hal-hal sederhana yang dia terima adalah anugerah Tuhan.
Sementara Andi berpikir dirinya layak mendapat hal yang lebih baik, makanan yang lebih enak, rumah yang lebih mewah. Dia tidak dapat menghargai hal-hal yang sederhana, karena dia merasa dirinya hanya pantas menerima hal-hal yang spektakuler.
Arti lain dari penjelasan saya di atas adalah, Budi akan lebih bersyukur daripada Andi, karena Budi dapat mensyukuri hal-hal yang sederhana yang tidak dipandang oleh Andi.
Karena Budi lebih bersyukur, Budi menjadi lebih bahagia. Dia akan merasa begitu dikasihi oleh Tuhan dan sesamanya. Dan karena itu, Budi akan menjadi pribadi yang lebih mengasihi, karena dia telah merasakan kasih itu sebelumnya. Dan karena Budi menjadi pribadi yang lebih mengasihi, dia mengizinkan orang lain untuk mengasihi dia lebih lagi.
Begitulah seterusnya Budi akan menjadi pribadi yang bahkan semakin mengasihi lagi…
Hal sebaliknya yang terjadi pada Andi. Karena Andi sulit untuk bersyukur, dia akan menjadi pribadi yang lebih bersungut-sungut. Dan karena itu, tidak jarang dia akan melukai lingkungan sekitarnya entah dengan kata-kata atau perbuatannya. Dia tidak mengizinkan semua orang mengasihi dia. Dia hanya mengizinkan orang-orang yang bisa memberinya hal-hal yang spektakuler untuk bisa mengasihi dia. Tidak heran, Andi menemukan dirinya tidak dikasihi.
Bila dilanjutkan, Andi akan menjadi pribadi yang dipenuhi oleh iri hati, karena melihat orang lain begitu dikasihi sementara dia tidak. Begitulah seterusnya Andi akan menjadi pribadi yang semakin bersungut-sungut dan dijauhi lingkungan sekitarnya.
Pada akhirnya, Andi dan Budi akan menjadi pribadi yang seperti bumi dan langit. Bukan karena lingkungan mereka yang berbeda, tetapi karena rasa syukur mereka yang berbeda.
Kawan, rasa syukur mengubahkan hidup.
Jika Anda saat ini merasa kurang dikasihi banyak orang, cobalah periksa standar rasa syukur Anda. Apakah Anda adalah pribadi yang terlalu sulit untuk dibuat bersyukur? Apakah Anda mengharuskan hal-hal spektakuler terjadi untuk dapat bersyukur?
Saat ini, marilah kita ubah standar rasa syukur kita. Syukurilah setiap hal-hal yang sederhana, bahkan hal-hal yang sepertinya tidak layak untuk kita syukuri. Karena semuanya itu adalah anugerah Tuhan. Dan Tuhan selalu memberikan kebaikan kepada mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28).
Jadilah pribadi yang lebih mengasihi. Izinkan orang lain untuk mengasihi Anda.
Tuhan memberkati kita semua.

sumber: http://charleschristian.wordpress.com/2011/09/28/izinkan-orang-lain-untuk-mengasihi-anda/#more-1509
Baca Selengkapnya.. "Izinkan Orang Lain Untuk Mengasihi Anda"

"Jejak Kaki di Karpet"

Sebuah kisah nyata... Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan dan kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih dan teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.

Cuma ada satu masalah, ibu yg pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum dan berkata

kepada sang ibu : "Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan" Ibu itu kemudian menutup matanya. "Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa

kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?" Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yg murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan; "Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu.Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi".

Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, napasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu dan kotoran disana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu". Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.

"Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya "Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?"

Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder dan John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) . Teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita 'membingkai ulang' sudut pandang kita, sehingga sesuatu yg tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang : Saya BERSYUKUR;

1.Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya IA BERSAMAKU bukan dengan orang lain.
2.Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya IA berada DI RUMAH dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.
3.Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka DI RUMAH dan tidak jadi anak jalanan.
4.Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu artinya SAYA BEKERJA dan DIGAJI TINGGI.
5.Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami dikelilingi BANYAK TEMAN.
6.Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya CUKUP MAKAN.
7.Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih MAMPU bekerja keras.
8.Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu artinya masih ada KEBEBASAN BERPENDAPAT.
9.Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya, karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih HIDUP.
10.Untuk setiap permasalahan hidup yang saya hadapi, karena itu artinya Tuhan sedang membentuk dan menempa saya untuk menjadi lebih baik lagi.

.::.(Sumber: Note Lutfi S. Fauza)

Terimakasih telah membaca, silahkan di share jika cerita ini bermanfaat.
Baca Selengkapnya.. ""Jejak Kaki di Karpet""